Sejak diresmikan tahun 2012, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) terus meningkatkan jumlah mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa pendidikan S-2 dan S-3. Layaknya orang tua, LPDP berupaya agar pemuda-pemudi Indonesia berprestasi mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah terbaik di dunia termasuk di Australia.

Indonesia pada tahun 2030 diprediksi akan masuk dalam kelompok 10 negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Untuk mendukung pencapaian itu, Indonesia akan membutuhkan tambahan tenaga kerja terdidik cukup besar. Dari hanya 56 juta yang ada saat ini, meningkat menjadi 116 juta orang.
Dilatari agenda besar inilah, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kini sibuk menyiapkan tenaga kerja terdidik tersebut melalui program pemberian beasiswa untuk pendidikan S-2 dan S-3 ke berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.
Sejak diresmikan pembentukannya tahun 2012 oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani ketika itu, LPDP telah menyalurkan dana beasiswa dan riset lebih dari Rp1 triliun. Jumlah mahasiswa yang dikirim belajar ke perguruan tinggi di dalam dan luar negeri juga semakin bertambah.
Jika di awal-awal, LPDP hanya mengirim sekitar 3000 orang mahasiswa setiap tahunnya, mulai tahun ini jumlahnya ditingkatkan menjadi 5000 orang.
“Tahun ini target kita menyekolahkan 5000 orang, sekitar 40% atau sekitar 2000 orang di antaranya kita kirim ke perguruan tinggi di luar negeri, sisanya kita kirim belajar di berbagai perguruan tinggi di dalam negeri. Tahun depan target kita juga sama 5000 orang,” kata Direktur LPDP, Dr. Eko Prasetyo.

'Indonesia memiliki agenda besar menyiapkan tenaga kerja terdidik untuk mendukung pencapaian Indonesia menjadi negara maju,
‘Indonesia memiliki agenda besar menyiapkan tenaga kerja terdidik untuk mendukung pencapaian Indonesia menjadi negara maju,” kata Direktur LPDP, DR Eko Prasetyo.

Menurut Dr. Eko Prasetyo, berbeda dengan masa sebelumnya dimana beasiswa banyak diberikan pada individu dari lingkaran pemerintahan, saat ini penerima beasiswa diprioritaskan dari kalangan swasta.

“Pada saat kita masih menjadi negara berkembang, kita butuh SDM berkualitas di dalam pemerintahan untuk memperbaiki sektor government baik di DPR, MPR maupun pemerintahan agar kita memiliki sistem yang baik di pemerintahan. Itu makanya dulu yang banyak dikasih beasiswa itu dari kalangan pemerintahan.”
“Tapi sekarang kita sudah menjadi negara Semi Developed Country, ekosistem negara sudah kondusif, demokrasi sudah berjalan OK, sudah memungkinkan orang untuk menciptakan perekonomian yang mandiri. Saat ini kita butuh lebih banyak entrepreneur dan investasi. Jadi sejak 2013, penerima beasiswa LPDP lebih diprioritaskan untuk swasta. Dan dalam sejarah belum pernah pemerintah mengirimkan begitu banyak warganya untuk sekolah ke luar negeri sampai ribuan,”
Mengacu pada kebutuhan Indonesia juga, maka LPDP saat ini memprioritaskan penyaluran beasiswa untuk bidang-bidang tertentu yang ke depan juga sangat diperlukan Indonesia, antara lain engineering, teknik, sains, pertanian, kedokteran, infrastruktur dan entrepreneur.
“Saat ini Indonesia sangat butuh banyak engineer, kenapa? Karena supaya ada banyak inovasi yang akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis knowledge, jadi tidak lagi mengandalkan sumber daya alam. “
“Selain itu sekarang pemerintah banyak membangun infrastruktur, oleh karena itu kita butuh banyak anak-anak yang punya background sarjana atau master ilmu sains terapan. Karena ilmu mereka lebih dekat untuk bisa menyelesaikan kebutuhan dalam pembangunan infrastruktur.”
“Jadi kebutuhannya besar dan memang diminta didorong oleh Presiden, jadi itu yang kita siapkan ke arah sana.”
Diakui Dr. Eko Prasetyo, Indonesia sebenarnya sudah agak terlambat melakukan hal ini dibandingkan negara-negara lain di Asia, seperti Korea, China dan Malaysia. Namun Ia menilai saat ini jalurnya sudah benar.
“Dengan adanya LPDP, masyarakat sekarang lebih mudah mendapatkan peluang beasiswa, lebih banyak pilihan juga. Dan yang terpenting beasiswa ini ditawarkan oleh bangsanya sendiri. Kalau dulu masyarakat yang bukan PNS mencari beasiswa belajar ke luar negeri hanya dari kedutaa-kedutaan dan itukan jatahnya terbatas. Di situ Alhamdulillah perkembangan kebijakan beasiswa kita sudah mencapai banyak kemajuan.”tegasnya.
Heru Handika, salah seorang mahasiswa penerima Beasiswa LPDP yang saat ini sedang belajar di University of Melbourne.
Heru Handika, salah seorang mahasiswa penerima Beasiswa LPDP yang saat ini sedang belajar di University of Melbourne.

Pengiriman Mahasiswa ke Australia akan ditingkatkan
Beasiswa LPDP menawarkan kesempatan belajar di 200 kampus terbaik di dunia dengan lebih dari 50 jurusan program studi yang bisa dipilih.
Saat ini Inggris masih menempati urutan pertama destinasi pengiriman mahasiswa penerima beasiswa LPDP disusul Belanda baru kemudian Australia di posisi ketiga.
Namun menurut Eko Prasetyo, pengiriman mahasisawa LPDP ke Australia berpeluang besar untuk terus ditingkatkan.
“Saat ini jumlah mahasiswa yang kita kirim belajar ke Australia sebanyak 484 orang tersebar di 22 perguruan tinggi, tapi jumlah ini akan terus ditingkatkan. Tapi
Australia punya peluang lebih besar karena lokasinya dekat dan selain itu mereka punya banyak kampus yang bagus juga, jadi pilihannya lebih menarik. Dari segi pendanaan karena sudah memiliki payung kerjasama kita bisa mendapatkan cost yang terbaik.”
LPDP memandang Australia punya banyak keunggulan di bidang studi yang menjadi sasaran pemerintah Indonesia, seperti teknologi terapan, pertanian dan kemaritiman.
“Kita perlu memperbanyak kampus2 yang basisnya lebih ke applied science yang merupakan kekuatan dari kampus-kampus seperti UTS. Tapi mungkin selain mengirim mahasiswa ke UTS, nanti mungkin akan kita tambah lagi,” katanya.
“Jadi kita juga akan memaksimalkan kekuatan dari masing-masing universitas. Contohnya misalnya kalau di Tasmania, itu bagus di bidang kemaritiman, pelabuhan, keperawatan, maka kita dorong kampus di Tasmania menjadi sasaran kalau ada anak-anak yang mau menekuni bidang study tersebut.”
Layaknya orang tua, LPDP tidak hanya memfasilitasi mahasiswa Indonesia untuk mendapat pendidikan dari perguruan tinggi terbaik di dunia, tapi juga mendapatkan waktu dan pelayanan terbaik juga selama menjalankan studi.
Untuk itulah LPDP menjalin kerjasama dengan banyak perguruan tinggi di dunia dan Australia Salah satunya adalah dengan Australian Technology Network (ATN), konsorsium 5 perguruan tinggi muda di Australia paling inovatif dan enterprising di Australia yakni Queensland University of Technology (QUT), University of Technology Sydney (UTS), RMIT University, Melbourne, University of South Australia dan Curtin University.
“LPDP berusaha memiliki payung kerjasama atau MOU dengan semua perguruan tinggi, dengan tujuan untuk mengamankan dan membuat nyaman anak-anak yang belajar karena sudah ada frameworknya. kalau tidak ada kerjasama seperti ini, jika ada masalah anak-anak kita sendiri yang susah.”
“Dengan kerjasama semacam ini antara LPDP dan ATN, kita bisa mengelola program ini untuk kepentingan 2 negara atau antar institusi. Dimana kita bisa lebih mudah mencapai target baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. “
“Dari kualitas karena dikelola bersama, kita bisa saling mengawasi dan jika ada kekurangan kita sudah memiliki payung kerjasamanya. Dari sisi kuantitas, kita bisa sama-sama aktif saling mempromosikan. Kalo semakin banyak promrosi maka akan semakin banyak aplikan, dan makin besar peluang LPDP maupun universitas di Australia untuk mendapatkan SDM yang berkualitas daripada hanya sedikit aplikan atau proses yang tidak transparan,”
Data dari LPDP menyebutkan mahasiswa Indonesia paling banyak menuntut ilmu di Universitas Monash dan Universitas Melbourne di negara bagian Victoria. Program studi yang paling banyak diambil mahasiswa LPDP di Australia adalah Teknik, sains, budaya, seni dan bahasa.

(nwk/nwk)

Sumber : http://news.detik.com/australia-plus-abc/3212355/lpdp-akan-tingkatkan-pengiriman-mahasiswa-ke-australia?utm_source=News&utm_medium=Msite&utm_campaign=ShareFacebook

Related post

Comment(0)

Leave a Comment